Singaraja – Beragam sampah dan material bekas dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Kreativitas tersebut terlihat dalam pameran Projek Kepemimpinan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Auditorium Undiksha, Jumat (30/10/2026). Berbagai produk inovatif hasil daur ulang sampah ditampilkan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan.
Produk yang dipamerkan berasal dari gagasan mahasiswa berbagai bidang studi. Tidak hanya mengolah barang bekas menjadi produk kreatif, sejumlah kelompok juga memadukan teknologi untuk menghadirkan solusi yang lebih aplikatif. Salah satunya adalah Smart Bin, tempat sampah pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang dikembangkan mahasiswa bidang studi Informatika.
Smart Bin merupakan inovasi yang dirancang untuk mengenali sampah organik dan anorganik secara otomatis. Melalui sensor yang terpasang, perangkat ini dapat mengidentifikasi jenis sampah, kemudian mengarahkannya ke tempat penampungan berbeda sesuai kategorinya. Dengan sistem tersebut, proses pemilahan dapat berlangsung secara otomatis sehingga sampah tidak bercampur sejak awal pembuangan.
Inovasi ini digagas oleh tim yang diketuai Alang Arta Iwana dan anggota I Komang Yudiantara, I Gede Bramayudha, Ida Bagus Anom Mudita, I Made Artadana, Burhanuddin Anshory, Fiari Rahman, di bawah bimbingan Prof. Dr. Ketut Agustini, S.Si., M.Si. Inovasi tersebut juga dilengkapi fitur pembuka tutup tempat sampah tanpa sentuhan dan pemantauan kapasitas secara real time. Menariknya, bagian badan produk memanfaatkan kardus bekas, sedangkan jaringan IoT menggunakan kabel bekas.
Ketua tim, Alang Arta Iwana, menjelaskan pengembangan Smart Bin membutuhkan waktu sekitar dua bulan, mulai dari perencanaan hingga perangkat dapat berfungsi. Selama proses tersebut, tim menghadapi sejumlah kendala teknis yang dapat diselesaikan melalui kerja sama dan pendampingan dosen.
“Dalam prosesnya tentu ada tantangan dan beberapa kali mengalami error. Namun, berkat kerja sama tim dan dukungan dosen pembimbing, akhirnya produk ini bisa berfungsi. Kami berharap inovasi ini tidak berhenti sampai di sini, tetapi terus dikembangkan, terutama dari sisi bahan agar lebih kokoh dan tahan lama,” ungkapnya.
Selain memiliki fungsi pengelolaan sampah, Smart Bin juga berpotensi dimanfaatkan sebagai media edukasi di sekolah. Peserta didik dapat mengenal proses identifikasi dan pemilahan sampah melalui penerapan teknologi secara langsung. Dengan demikian, inovasi ini dapat menjadi sarana pembelajaran untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini.
Koordinator PPG Undiksha, Drs. I Gede Nurjaya, M.Pd., mengapresiasi berbagai karya yang dihasilkan mahasiswa dalam Projek Kepemimpinan tersebut. Ia mendorong agar produk-produk inovatif yang telah dikembangkan tidak berhenti pada kegiatan pameran, tetapi terus disempurnakan sehingga memiliki manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Pameran ini menjadi salah satu bentuk implementasi Projek Kepemimpinan dalam melatih mahasiswa mengenali persoalan nyata, membangun kolaborasi, dan menghasilkan solusi kreatif. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi calon guru untuk menghadirkan pembelajaran yang inovatif sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan di sekolah. (hms)





